Home‎ > ‎

Fenomena Menghafal Al-Qur’an dalam Pendidikan Formal

diposting pada tanggal 16 Mei 2018 23.46 oleh Lilik Ummi Kaltsum   [ diperbarui16 Mei 2018 23.49 ]

Hafalan Sebagai Formalitas

Beberapa tahun terakhir ini para orang tua diserbu beragam tawaran sekolah yang bersemangat membawa bendera Islami. Salah satu bentuk Islami yang ditawarkan adalah kewajiban bagi para murid untuk menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Harapan utama yang biasa disebarkan adalah lahirnya generasi-generasi penerus bangsa yang mumpuni dalam keilmuan dan matang dalam spiritual. Karena, al-Qur’an adalah sumber dari beragam hukum Islam dan pedoman utama umat Islam dalam menjalani kehidupan, maka dengan hafal al-Qur’an, anak didik akan termotivasi untuk memahami maknanya dan menghubungkan dengan kehidupan atau benar-benar mampu menjadikannya sebagai petunjuk dalam setiap problem hidup.

Inilah impian atau cita-cita besar yang sering didengungkan oleh pihak sekolah kepada para murid dan para wali murid. Namun, seiring dengan perjalanan waktu cita-cita besar itupun belum dapat terwujud secara maksimal. Terbukti dari minimnya, bahkan mungkin tidak ada, para siswa-siswi yang mampu mempertahankan hafalan ayat-ayat tersebut sampai akhir masa studi. Artinya, ketika para murid sudah kelas VI untuk SD dan kelas III untuk SMP tidak ada ayat yang terpatri secara sempurna, bukan sepotong-potong, dalam memori otaknya kecuali hanya beberapa ayat yang dibaca 1 semester terakhir. Sedangkan ayat-ayat yang beberapa tahun sebelumnya telah dihafalkan dengan susah payah hilang entah ke mana termakan masa. Padahal ibarat petani, para orang tua ingin menuai hasil tanamannya yang ditunggu-tunggu selama 6 tahun atau 3 tahun berupa kemampuan anaknya melafalkan juz 30 (juz ‘amma) atau surah-surah tertentu secara baik dan benar tanpa melihat teks al-Qur’an (bi al-ghaib).

Kenyataan ini menimbulkan kesan bahwa upaya menghafal ayat-ayat al-Qur’an dalam sekolah-sekolah formal hanyalah sebatas formalitas. Posisi perintah menghafal ayat al-Qur’an tidak berbeda dengan perintah atau tawaran mengikuti kursus melukis, menari dalam deretan program-program ekstrakurikuler. Tulisan ini bukan bermaksud menghapus kegiatan menghafal al-Quran dalam beberapa sekolah formal yang dikemas secara islami dengan beragam nama antara lain, SDIT, SD Plus, SMPIT, SMP Plus dan sejenisnya. Akan tetapi, melalui tulisan ini penulis berharap dapat ikut membantu memaksimalkan terwujudnya tujuan mulia tersebut, sehingga tidak terkesan sia-sia atau membuang-buang uang karena biasanya sekolah yang berlabel agama lebih mahal dari yang tanpa label atau sekolah umum, sedangkan sia-sia pikiran dan waktu, karena upaya menghafal yang susah payah ini pada akhirnya tidak tampak nyata hasilnya.

Melacak Sebab Kegagalan

Sebatas pengamatan penulis, ada 3 hal yang menjadi sebab kegagalan penerapan tahfîdz di sekolah-sekolah formal. Pertama, management tahfîdz yang diterapkan oleh pembina hafalan. Biasanya para instruktur atau pembimbing tahfidz hanya menekankan “menambah hafalan”, misalnya 1 hari harus minimal 2 ayat tanpa ada penekanan untuk takrîr atau mengulang-ulang ayat-ayat yang telah dihafal. Kedua, orang tua. Biasanya orang tua merasa kasihan terhadap anaknya yang sudah terbebani dengan beragam mata pelajaran dengan beragam tugasnya, sehingga tidak ada upaya membimbing anak untuk mengulang-ulang hafalannya di rumah. Di samping itu, bagi para orang tua tahfidz al-Qur’an dalam sekolah tersebut hanya ekstrakurikuler tidak ada kaitannya dengan ujian negara ataupun kelulusan akhir. Ketiga, pihak Kepala sekolah. Biasanya, pimpinan sekolah atau yayasan hanya menyerahkan atau mempercayakan 100% kepada instruktur tahfidznya pola atau metode yang akan diterapkan.

Kebijakan atau sikap dari ketiga pihak inilah yang sangat berpengaruh pada berhasil tidaknya program tahfidz di sekolah formal. Anak didik tidak termasuk dalam deretan penanggung jawab, karena ia masih anak-anak yang masih belum mampu menentukan sendiri pilihan masa depannya. Anak dengan beragam talenta yang dianugerahkan Tuhan kepadanya sangat tergantung kepada siapa yang mengarahkannya dan bagaimana management yang dipakai. Dengan demikian, sangatlah keliru anggapan bahwa ketidakmampuan anak melafalkan kembali semua ayat yang dipernah dihafalnya adalah keteledoran anak itu sendiri.

Kegagalan dalam memanaj tahfidz al-Qur’an dalam lembaga-lembaga pendidikan juga akan berdampak pada sikap apatis terhadap program hafalan al-Qur’an. Ada sebagian masyarakat yang menolak kegiatan menghafal al-Qur’an baik di dalam sekolah-sekolah formal maupun pesantren-pesantren non formal. Dalih utama yang diutarakan adalah pada akhirnya tidak ada perbedaan antara anak-anak yang selama 3 atau 6 tahun pernah menghafal dengan anak-anak yang sama sekali tidak pernah diperintah untuk tahfidz al-Qur’an. Keduanya tidak bisa melafalkan ayat-ayat tersebut tanpa melihat teks al-Qur’an, paling baik, 2 atau 3 tahun setelah proses menghafal.

Solusi

Otak adalah organ tubuh ciptaan Allah yang luar biasa kekuatan memorinya melebihi alat-alat elektronik ciptaan manusia. Semakin sering tersentuh rangsangan maka semakin kuat daya tangkapnya. Sebaliknya, semakin kurang sentuhan, maka semakin melemah kekuatan memorinya. Pada dasarnya otak anak mampu menerima atau menyimpan memori apapun jika disentuh dengan tehnik-tehnik yang tepat. Inilah yang harus disadari sehingga para orang tua ataupun guru tidak pesimis dengan kekuatan otak anaknya jika diarahkan untuk menghafal ayat al-Qur’an.

Upaya melahirkan hafidz hafidzah merupakan cita-cita mulia yang seharusnya dibarengi dengan kerja keras yang juga mulia dari berbagai pihak yaitu pimpinan sekolah, pembina tahfidz, orang tua dan anak didik. Kerjasama yang baik dari keempat pihak inilah yang akan menjadi soslusi dari kegagalan program tahfidz. Pertama, kepala sekolah atau ketua yayasan sebagai pemegang kebijakan dalam keputusan-keputusan yang ditetapkan, termasuk keputusan kewajiban menghafal al-Qur’an. Ia harus mempertegas tujuan utama mengadakan program tahfidz dalam sekolahnya, apakah hanya sebatas formalitas (marketable) ataukah memang melahirkan hafidz hafidzah yang dapat di pertanggung jawabkan meski hanya sebagian dari ayat-ayat al-Qur’an. Jika tahfidz hanya sebatas formalitas, sekedar latihan hafalan atau sekedar melahirkan “mantan hafidz-hafidzah”, maka mental para orang tua harus dipersiapkan, sehingga tidak ada tuntutan para wali murid kepada sekolahan, sedangkan jika program ini benar-benar ingin mencetak hafidz-hafidzah anak-anak yang siap dibekali pelajaran lain pasca tahfidz untuk pengembangan dan pendalaman hafalan mereka, maka orang tua juga harus diajak kerjasama ikut andil menjaga hafalan tersebut atau sering diulang-ulang di rumah. Apapun tujuan atau motivasi dari program tahfidz seharusnya kepala sekolah atau ketua yayasan mengkomunikasikannya kepada pihak orang tua, sehingga merekapun bisa menerima masing-masing konsekuensinya.

Kedua, pihak wali murid atau orang tua. Sebelum memasukkan anak ke sekolah tersebut seharusnya orang tua menanyakan program tahfidz tersebut, sehingga siap menerima segala konsekuansinya. Sebaiknya orang tua selalu ikut mengulang-ulang hafalan anak, sehingga tidak terkesan membuang-buang waktu, tenaga juga biaya. Karena, hampir setiap hari anak ditagih atau ditekan untuk setor hafalan. Namun, pada akhirnya halafan yang dibangun dengan susah payah itupun hilang dalam sekejap. Membuang biaya karena salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa sekolah ini mahal adalah karena ada materi atau bimbingan menghafal al-Qur’an.

Ketiga, instruktur tahfidz merupakan kunci kesuksesan program ini. Seharusnya guru-guru tahfidz merubah slogan “memperbanyak hafalan” dengan “memperlancar hafalan”. Prinsip inilah yang harus ditanamkan. Karena, kemampuan menghafal anak berbeda-beda. Maka dengan prinsip ini yang menjadi penentu bukan kecerdasan anak untuk menambah beberapa ayat dalam sehari, tetapi keistiqomahan atau kontiniutas anak menjaga hafalannya, sehingga peringkat yang diberikan adalah sedikit tapi lancar itu lebih bertanggung jawab dari pada banyak ayat tapi tidak lancar membacanya, bahkan hilang hafalannya.

Keempat, anak sebagai obyek yang dibebani menghafal al-Qur’an. Sebagai obyek seharusnya anak diberikan sedikit pengertian tentang kegiatan menghafal al-Qur’an yang arahnya pada kecintaan anak pada kitab sucinya. Hal ini bertujuan agar proses menghafal al-Qur’an dilakukan tidak dengan terpaksa tetapi penuh dengan semangat keceriaan. Sikap senang, ceria, enjoy ketika menghafal ayat-ayat dibarengi dengan tehnik-tehnik yang tidak monoton akan mempermudah dan mempercepat daya ingat anak sekaligus menumbuhkan kerjasama yang baik antara otak kiri dan otak kanan anak didik.

Demikianlah sedikit sumbangsih penulis demi peningkatan mutu kualitas pendidikan kita. Bukan sekedar slogan dan simbol-simbol yang ditonjolkan tetapi bukti nyata yang ditampilkan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi berbagai pihak.

  

Tulisan Ini Telah Diterbitkan Di Majalah MPA Depag Jatim, 2010

 

Penulis,

Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA (IMZI)

Dosen Tafsir Fakultas Ushuluddin

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Comments